Emas Antam Turun ke Rp2.943.000 Pasca Keputusan Suku Bunga The Fed

  • Emas Antam turun lebih dari Rp50.000 pada hari ini.
  • Penurunan tersebut menyusul penurunan harga Emas dunia.
  • Pedagang mencerna keputusan The Fed sambil menantikan rilis data AS.

Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.943.000 hari ini yang turun Rp53.000 dibandingkan harga kemarin Rp2.996.000 seperti dicantumkan dalam situs Logam Mulia. Untuk Emas Antam 0,5 gram dijual di harga Rp1.521.500 dan 1.000 gram di Rp2.883.600.

Penurunan besar tersebut mengekor harga Emas dunia (XAU/USD) yang turun 3,73% untuk ditutup di $4.818 per troy ons pada hari kemarin setelah tidak menunjukkan pergerakan signifikan dua hari perdagangan sebelumnya.

XAU/USD menunjukkan penurunan yang menonjol pada perdagangan sesi Eropa pada hari kemarin dan diperdalam pasca keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga di 3,50% hingga 3,75% diikuti konfrensi pers Jerome Powell yang mengisyaratkan mempertahankan suku bunga tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama dengan fokus utamanya pada inflasi yang berisiko naik di tengah kenaikan harga minyak.

Sikap bank sentral memperkuat Dolar AS yang pada akibatnya melemahkan aset tanpa imbal hasil seperti Emas. Pasar masih mencerna keputusan bank sentral sambil menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat hari ini yang mencakup Klaim Tunjangan Pengangguran, Survei Manufaktur The Fed Philadelphia, Penjualan Rumah Baru, Persediaan Perdagangan Besar, dan Perubahan Persediaan Gas Alam EIA pada perdagangan sesi AS.

Perkembangan perang di Timur Tengah juga tetap diamati untuk mencari pendorong harga Emas, meskipun para pedagang lebih memilih safe haven Dolar AS dalam periode risk-off baru-baru ini dibandingkan Emas. Itu terlihat dari Indeks Dolar AS (DXY) yang berada dalam tren naik dan sempat meraih tertinggi 100,54 pada pekan lalu. Pada saat berita ini ditulis, DXY berada di 100,06

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.

Yen Jepang Menghadapi Tekanan Terhadap Dolar AS Saat BoJ Membiarkan Suku Bunga Tidak Berubah di 0,75%

Yen Jepang (JPY) menghadapi tekanan jual terhadap Dolar AS (USD) setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah di 0,75%. Namun, pasangan mata uang USD/JPY turun 0,14% ke dekat 159,70 karena Dolar AS berkinerja buruk dibandingkan mata uang utama lainnya
Leia mais Previous

AUD/JPY Mempertahankan Kenaikan Mendekati 112,50 setelah BoJ Mempertahankan Suku Bunga Stabil Seperti yang Diharapkan

Pasangan mata uang AUD/JPY mempertahankan kenaikan di dekat 112,45 selama perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. Yen Jepang (JPY) melemah terhadap Dolar Australia (AUD) setelah keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ)
Leia mais Next