USD/RUB: Rubel Berada di Terendah Baru YTD bahkan Ketika Kelompok Wagner Meninggalkan Pemberontakan Rusia

  • USD/RUB tetap menguat di level tertinggi sejak April 2022, mengurangi penurunan mingguan pertama dalam empat pekan.
  • Tentara bayaran Wagner mundur ke Belarus setelah kesepakatan dengan Moskow untuk menghindari pemberontakan.
  • Harga minyak yang lebih rendah juga memberi tekanan turun pada Rubel.
  • Dolar AS berjuang untuk mempertahankan kenaikan mingguan menjelang petunjuk inflasi dan pidato para gubernur bank sentral.

USD/RUB mengambil tawaran beli untuk melanjutkan pemulihan hari sebelumnya dari support DMA-50 menjelang sesi Eropa hari Senin. Dengan ini, pasangan Rubel Rusia (RUB) membenarkan kurangnya kepercayaan pasar terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan setelah kelompok tentara bayaran membatalkan pemberontakan mereka terhadap Moskow. Yang juga membebani harga RUB adalah kinerja suram dari harga minyak, barang ekspor utama Rusia.

"Rusia berusaha memulihkan ketenangan pada hari Senin setelah pemberontakan yang digagalkan oleh tentara bayaran Wagner Group selama akhir pekan, sementara sekutu-sekutu Barat menilai bagaimana Presiden Vladimir Putin dapat menegaskan kembali otoritasnya dan apa artinya bagi perang di Ukraina," demikian dikutip dari Reuters. Berita tersebut juga menyatakan bahwa para pejuang Wagner menarik diri dari kota Rostov, Rusia selatan, dan kembali ke markas mereka pada hari Sabtu di bawah sebuah kesepakatan yang menjamin keselamatan mereka.

Di sisi lain, minyak mentah WTI masih tidak menentu di sekitar $69,50, setelah membukukan penurunan mingguan terbesar sejak awal Mei, di tengah kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, meskipun berita utama yang positif menunjukkan lebih banyak stimulus dari Beijing. Meskipun demikian, lembaga pemeringkat global S&P baru-baru ini memangkas prakiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) RRT untuk tahun 2023 menjadi 5,2% dari prakiraan sebelumnya 5,5%. Dengan demikian, emas hitam mengabaikan harapan akan meningkatnya permintaan dan pasokan minyak, didukung oleh katalis OPEC dan Rusia.

Di tempat lain, Indeks Dolar AS (DXY) memangkas kenaikan mingguan pertama dalam empat pekan terakhir di sekitar 102,70 karena dibebani optimisme ringan seputar Tiongkok dan meredanya kekhawatiran geopolitik dari Rusia. Selain itu, konsolidasi menjelang petunjuk inflasi AS pekan ini dan pidato para gubernur bank sentral juga memberi tekanan turun pada DXY.

Perlu dicatat bahwa kesaksian Ketua Fed Jerome Powell selama pekan sebelumnya memperbaharui bias hawkish tentang langkah Federal Reserve (Fed) AS. Ditambah dengan IMP AS yang optimis dan komentar yang mendukung dua kenaikan suku bunga dari Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly.

Sementara menggambarkan sentimen pasar, S&P500 Futures pulih dari level terendah dalam sepekan menuju kembali ke level 4.400, naik 0,20% secara harian mendekati 4.398. Meskipun demikian, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun masih berada di dekat 3,73%, setelah menghentikan tren penurunan selama dua pekan, sedangkan obligasi bertenor dua tahun bersiap untuk kenaikan mingguan keempat berturut-turut di dekat 4,74% pada saat berita ini diturunkan.

Ke depan, berita utama geopolitik akan bergabung dengan petunjuk inflasi AS dan beberapa pidato gubernur bank sentral di Forum Bank Sentral Eropa (ECB ) untuk menentukan pergerakan mingguan pasangan USD/RUB.

Analisis Teknis

Sebuah pembalikan arah yang jelas dari support DMA-50 di sekitar 80,90 bergabung dengan sinyal MACD bullish akan mengarahkan para pembeli USD/RUB untuk memperbarui puncak tahunan, saat ini di dekat 85,50.

BIS Memperingatkan Adanya Risiko Material dari Tekanan Keuangan Lebih Lanjut

Agustin Carstens, manajer umum Bank for International Settlements (BIS), memperingatkan dalam laporan tahunan organisasi yang diterbitkan pada hari Ah
Baca lagi Previous

EUR/USD: ECB Tak akan Pangkas Suku Bunga Acuan Tahun Depan Meskipun Ekonomi Melambat, Dorong Euro –Commerzbank

EUR/USD bereaksi tajam terhadap data IMP Zona Euro yang mengecewakan. Para ekonom di Commerzbank menganalisa prospek pasangan ini. Pasar Mungkin Belu
Baca lagi Next