GBP/JPY Pertahankan Kenaikan di Sekitar Tertinggi Tujuh Tahun di 182,00, Sorotan Bergeser ke Inflasi Inggris
- GBP/JPY diperdagangkan di sekitar tertinggi tujuh tahun di 182,00 saat fokusnya bergeser ke inflasi Inggris.
- Pekan lalu, Gubernur BoJ Ueda memutuskan untuk mempertahankan kebijakan tidak berubah karena diperlukan lebih banyak stimulus untuk membendung inflasi dari faktor-faktor domestik.
- Menteri Inggris Hunt menunjukkan keengganan saat berdiskusi tentang pemberian dukungan fiskal kepada rumah tangga untuk mengimbangi dampak harga hipotek yang tinggi.
Pasangan GBP/JPY melayang di sekitar tertinggi baru tujuh tahun di sekitar 182,00 di sesi Eropa. Pasangan mata uang ini tetap berada di lintasan positif karena Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga tidak berubah di -0,15 dan imbal hasil di bawah batas 0,5%.
Gubernur BoJ Kazuo Ueda memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter tidak berubah karena diperlukan lebih banyak stimulus untuk membendung tekanan inflasi dari faktor-faktor domestik. Tekanan inflasi saat ini di Jepang didukung oleh harga impor yang lebih tinggi dan BoJ ingin menukar sumbernya dengan menaikkan upah dan permintaan domestik.
Kebutuhan untuk menjaga inflasi Jepang di atas 2% dapat dicapai dengan menjaga kebijakan moneter tetap ekspansif.
Sementara itu, penguatan Pound Sterling berasal dari ekspektasi bahwa inflasi Inggris akan tetap membandel karena kondisi pasar tenaga kerja semakin ketat. Menurut laporan pendahuluan, inflasi utama bulanan (Mei) telah tumbuh pada laju 0,4%, lebih lambat dari laju 1,2% yang tercatat di bulan April. IHK utama tahunan diprakirakan melemah ke 8,5% dibandingkan rilis sebelumnya 8,7% sementara inflasi inti yang tidak termasuk harga minyak dan makanan diprakirakan stabil di 6,8%.
Menteri Keuangan Inggris Jeremy Hunt menunjukkan keengganan saat berdiskusi tentang pemberian dukungan fiskal kepada rumah tangga untuk mengimbangi dampak harga hipotek yang tinggi, seperti yang dilaporkan oleh Financial Times. Dukungan fiskal untuk perekonomian dapat meredam dampak dari kebijakan moneter ketat oleh Bank of England (BoE) dan dapat memicu tekanan inflasi.
Rilis inflasi Inggris akan diikuti oleh keputusan suku bunga dari Gubernur BoE Andrew Bailey, yang diprakirakan akan tetap sangat hawkish.