Pasar Saham Asia: Gejolak Berlanjut karena Dampak Keruntuhan SVB Belum Memudar, Minyak Turun ke $74,00

  • Saham Asia terus bergejolak karena dampak dari runtuhnya SVB akan membutuhkan waktu untuk pulih.
  • Data Penjualan Ritel Tiongkok yang optimis dapat mendorong harapan pemulihan ekonomi setelah pencabutan pembatasan karantina wilayah.
  • Melonjaknya kekhawatiran akan resesi ekonomi AS telah mendorong harga minyak turun ke $74,00.

Pasar di ranah Asia telah melanjutkan momentum penurunannya karena investor melepas ekuitas setelah runtuhnya Silicon Valley Bank (SVG). Para investor telah secara drastis memangkas eksposur mereka terhadap bank dan pemberi pinjaman keuangan dengan harapan bahwa biaya tunggakan dapat memicu lebih lanjut.

Suku bunga bank-bank sentral global yang lebih tinggi telah mempercepat kewajiban bunga dan kegagalan dalam membayar bunga telah mengakibatkan penumpukan Non-Performing Assets (NPA). Bloomberg melaporkan bahwa kapitalisasi pasar gabungan dari Morgan Stanley Composite Index (MSCI) World Financials Index dan MSCI Emerging Markets (EM) Financials Index telah turun sekitar $465 miliar dalam tiga hari.

Indeks berjangka S&P500 telah mencoba untuk pulih di sesi Asia setelah hari Senin yang lemah, namun, indeks berjangka 500 saham AS gagal untuk memicu optimisme di indeks Asia.

Pada saat berita ini diturunkan, Nikkei 225 menukik 2,16%, ChinaA50 jatuh 0,76%, Hang Seng anjlok 1,86%, sementara Nifty50 tetap datar.

Saham-saham Jepang telah menyaksikan aksi jual besar-besaran setelah mantan Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda mempertahankan kebijakan dovish di tengah-tengah tidak adanya pemulihan dalam permintaan keseluruhan dan upah yang didistribusikan. Pasar mengharapkan bahwa Gubernur BoJ yang baru, Kazuo Ueda, akan memberikan peta jalan untuk keluar dari Yield Curve Control (YCC) dan kebijakan moneter yang sangat longgar, namun prosesnya akan dilakukan secara bertahap seperti yang telah diantisipasi.

Ekuitas RRT kemungkinan besar akan menari mengikuti irama data Penjualan Ritel (Februari) hari Rabu. Data ekonomi ini diharapkan akan berekspansi sebesar 3,5% dibandingkan kontraksi 1,8% yang ditampilkan sebelumnya. Data Penjualan Ritel yang optimis dapat mendorong harapan pemulihan ekonomi di ekonomi Tiongkok setelah pencabutan pembatasan sosial.

Saham global akan tetap berada dalam tekanan menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat, yang diharapkan akan meningkat dengan laju yang lebih rendah secara bulanan.

Harga minyak telah turun mendekati $74,00 di tengah harapan bahwa ekonomi AS akan menghadapi resesi karena kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) menghasilkan prospek yang suram.

 

Berita Harga USD/INR: Rupee Pulih di Dekat 82,40 Menjelang Inflasi India dan AS

USD/INR bertahan pada penurunan ringan di dekat 82,35 karena mengkonsolidasi kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan selama awal hari Selasa.
Leer más Previous

USD/TRY: Pembeli dan Penjual Berdesak-desakan di Sekitar 19,00 Menjelang Inflasi AS

USD/TRY tak bergerak di sekitar 18,95 selama awal hari Senin di Eropa. Dengan demikian, pasangan Lira Turkiye mencari arah yang jelas di tengah katali
Leer más Next