USD/JPY Pudarkan Pemantulan dari Terendah Multi-Hari karena Imbal Hasil Turun
- USD/JPY mengkonsolidasikan kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Juni.
- Kekhawatiran yang beragam atas The Fed dan BOJ menantang para pedagang di tengah kurangnya sejumlah data/acara besar.
- Pra 'pekan bisu' The Fed dan pullback dalam ekspektasi inflasi AS menggoda para penjual.
- Masalah inflasi menantang kebijakan uang mudah BOJ, memikat para penjual USD/JPY.
USD/JPY gagal melanjutkan pemantulan awal pekan dari 200-DMA karena mencetak pelemahan tipis di dekat 136,50 selama sesi Asia hari Selasa.
Meskipun demikian, pelemahan terbaru pasangan Yen ini dapat dikaitkan dengan sejumlah perbincangan seputar pengetatan moneter Bank of Japan (BOJ) di tengah kekhawatiran terhadap inflasi. Dengan demikian, para pedagang USD/JPY tidak terlalu memperhatikan pembelaan Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda terhadap kebijakan uang mudah.
Reuters mengutip Takeo Hoshi, seorang akademisi yang memiliki hubungan dekat dengan pengambil kebijakan bank sentral yang sedang menjabat, menyebutkan bahwa Bank of Japan (BoJ) dapat menghilangkan batas imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 10-tahun pada tahun 2023 karena meningkatnya peluang bahwa inflasi dan upah akan melebihi ekspektasi.
Sebelumnya pada hari ini, Kuroda BoJ menyebutkan bahwa Jepang belum mencapai inflasi 2% yang stabil disertai dengan kenaikan upah. Namun, pengambil kebijakan itu juga menyatakan, "Setelah target inflasi 2% secara konsisten terpenuhi, akan mempertimbangkan untuk keluar dari kebijakan ultra-longgar."
Di sisi lain, ekspektasi inflasi AS, sesuai dengan tingkat inflasi impas 10 tahun dan 5 tahun menurut data Federal Reserve St Louis (FRED), turun dari level tertinggi satu bulan dan menantang bias hawkish baru-baru ini atas langkah selanjutnya oleh Federal Reserve AS (The Fed). Data terbaru dari ekspektasi inflasi 5 tahun dan 10 tahun menggambarkan pullback dari level tertinggi satu bulan masing-masing ke 2,46% dan 2,39%.
Perlu disebutkan bahwa data AS yang optimis pada hari Jumat dan pidato The Fed menantang seruan dovish dari The Fed, yang pada gilirannya menguji optimisme terbaru. Dikatakan, IMP Jasa ISM AS naik ke 56,5 pada bulan November dibandingkan 53,1 prakiraan pasar dan 54,4 pembacaan sebelumnya sedangkan Pesanan Pabrik juga mencatat pertumbuhan 1,0% dibandingkan dengan 0,7% yang diharapkan dan 0,3% sebelumnya. Lebih lanjut, IMP Gabungan Global S&P meningkat ke 46,4 dibandingkan 46,3 estimasi awal sementara IMP Jasa naik ke 46,2 dibandingkan dengan 46,1 prakiraan pendahuluan.
Pada hari Jumat, Nonfarm Payrolls (NFP) AS mengejutkan pasar dengan naik ke 263 ribu versus 200 ribu yang diharapkan dan revisi ke atas sebelumnya sebesar 284 ribu sementara Tingkat Pengangguran sesuai dengan prakiraan pasar dan pembacaan sebelumnya sebesar 3,7% untuk bulan November. Menyusul data yang optimis itu, Presiden The Fed Chicago Charles Evans mengatakan, "Kita mungkin akan memiliki puncak yang sedikit lebih tinggi untuk tingkat kebijakan The Fed bahkan ketika kita memperlambat laju kenaikan suku bunga."
Di tempat lain, optimisme seputar kondisi Covid Tiongkok berlawanan dengan beberapa tajuk utama seputar serangan drone Ukraina jauh di dalam wilayah Rusia.
Di tengah permainan ini, Kontrak Berjangka S&P 500 mencetak kenaikan dalam perdagangan harian sebesar 0,20% di sekitar 4.011 sambil menghentikan tren turun selama tiga hari. Meskipun demikian, imbal hasil obligasi 10-tahun pemerintah AS memudarkan pemantulan dari level terendah 11-minggu yang dicatat pada hari Jumat lalu, turun tiga basis poin (bp) ke 3,56% pada saat berita ini ditulis.
Selanjutnya, kalender ekonomi yang sepi dapat membatasi pergerakan USD/JPY tetapi sejumlah perbincangan seputar keluarnya BOJ dari kebijakan uang mudah dapat membuat para penjual tetap optimis.
Analisis Teknis
Garis resistance turun berusia satu bulan membatasi kenaikan segera USD/JPY di dekat 136,80, yang pada gilirannya mengarahkan pasangan mata uang ini menuju pengahalang 200-DMA, di sekitar 134,70 baru-baru ini.